Minggu, 10 Juni 2012

HUKUM JUAL BELI


HUKUM JUAL BELI
stain-purwpkerto.gif

MAKALAH
Disusun Dan Diajukan Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Heru Kurniawan,S.Pd.,M.A.
Dosen Pengampu : Drs. Amat Nuri, M.Pd.I.





Disusun Oleh :
Nama   :Wiwit Aji Subekti
NIM    : 102338051





SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM  NEGERI (STAIN)
PURWOKERTO
2011


BAB I
PENDAHULUAN
              1.      LATAR BELAKANG

                 Dalam hukum islam ada beberapa barang haram yang dilarang  untuk dijual, bahkan diharamkan memakan hasil penjualannya. Barang haram yang tidak boleh dijual diantaranya adalah:
1)      Jual beli khamr
2)      Jual beli barang najis seperti bangkai
3)      Jual beli barang yang kegunaan pada umumnya adalah haram seperti alat-alatjudi.
4)      Jual beli barang hasil dari perjudian dan pencurian.
5)      Jual beli kitab-kitab yang menyesatkan.
6)      Jual beli dengan logam (alat tukar) yang tak berlaku lagi.
7)      Menjual sesuatu kepada musuh-musuh Islam yang dapat menambahkekuatan mereka dalam memusuhi kaum Muslimin.
Indonesia merupakan Negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, akan tetapi masih banyak yang tidak mempraktekkan jaul beli yang sesuai ajaran islam bahkan barang-barang haram masih sering dijual oleh masyarakat muslim.

               2.   RUMUSAN MASALAH
1)   Bagaimana hokum jual beli barang haram?
2)   Apa saja jenis barang haram yang tidak boleh diperjual belikan?

               3.   TUJUAN
1)   Untuk mengetahui hokum jual beli barang haram
2)   Untuk mengetahui jenis barang haram yang tidak boleh diperjual belikan





BAB II
PEMBAHASAN
A.    HUKUM JUAL BELI BARANG HARAM
Ø  Matan hadits tentang jual beli barang haram
Imam Ahmad Rahimahullah menukil perkataan Rasululllah shalallahu ‘alaihi wa ahlihi wa salam dalam Musnad-nya (6/342):
... dari Ibn ‘Abbas bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berkata: “Allah melaknat orang Yahudi. Diharamkan atas mereka shuhum (lemak sapi yang ada dipunuk) kemudian mereka menjualnya.Kemudian mereka makan hasil (penjualannya), dan sungguh Allah bila telah mengharamkan sesuatu pasti dia mengharamkan pula hasil penjulannya.”1
Ø  Penjelasan  hadist
Hadist diatas menegaskan bahwa
1.  Yahudi diharamkan makan shuhum (lemak sapi yang ada dipunuk)
2.    Allah melaknat Yahudi karena menjual sesuatu yang diharamkan dan makan (memanfaatkan) hasil penjualan sesuatu yang diharamkan
3.   Bila Allah mengharamkan sesuatu maka Allah pasti mengharamkan hasil penjualannya.
Berdasarkan hadist di atas tak diragukan lagi bahwa kita dilarang melakukan jual beli sesuatu yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Penjualan Haram:
1.    Menjual Khamr (salah satunya adalah Minuman Keras)
Shahih Muslim (8/243): ... dari Abdurrahman bin Wa’lah as-Sabai penduduk Mesir bahwa dia bertanya Abdullah bin ‘Abbas tentang jus anggur. Kemudian Ibn ‘Abbas berkata: “Sesungguhnya seorang laki-laki memberikan hadiah kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sebejana khamr (minuman keras), maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berkata: “Tahukan engkau bahwa sungguh Allah telah mengharamkannya?” Ia menjawab: ‘Tidak.” Kemudian mereka berbisik.maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berkata kepadanya: “Apa yang engkau bisikkan kepadanya?” Ia menjawab: “Saya sarankan dia agar menjualnya.[1]” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sesungguhnya (Dzat) yang telah mengharamkan untuk meminumnya – yaitu khamr – telah mengharamkan pula penjualannya.” Ibn ‘Abbas berkata: “Kemudian ia membuka bejana tersebut hingga keluar apa yang ada di dalamnya.”2
2.         Menjual Khamr, Bangkai, Babi dan Patung
Shahih Bukhari (7/484): ... dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma bahwa ia mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pada saat tahun Pembukaan dan beliau sedang di Makkah bersabda: “Sesungguhnya Allah dan Rasulnya mengharamkan penjualan khamr, bangkai, babi, dan patung (termasuk gambar makhluk bernyawa )3
Lalu bagaimana dengan jual beli binatang yang diharamkan seperti anjing, kucing, harimau, singa, burung elang, gagak, katak, ular, cicak dan tokek.
Jual Beli Haram
1.Jual beli barang najis seperti bangkai.
2.Jual beli barang yang kegunaan pada umumnya adalah haram seperti alat-alat judi.
3.Jual beli barang hasil dari perjudian dan pencurian.
4.Jual beli kitab-kitab yang menyesatkan.
5.Jual beli dengan logam (alat tukar) yang tak berlaku lagi.
6.Menjual sesuatu kepada musuh-musuh Islam yang dapat menambah kekuatan mereka dalam memusuhi kaum Muslimin.
7.Menjual senjata kepada musuh-musuh Islam sehingga dapat menambah kekuatan mereka dalam memusuhi kaum Muslimin.
Selain di atas ini, jual beli haram juga terdapat pada perkara-perkara yang kini tidak lagi dialami oleh orang.
Risalah tentang jual beli yang dilarang dalam Islam ini kami adaptasi kitab fiqh wa fatawa al buyu’ dari Syaikh Shalih Al Fauzan bin Fauzan ’, hlm. 125 s/d 137, karya Syaikh Shalih Al Fauzan bin Fauzan.4Dalam melakukan jual beli, seorang muslim harus memperhatikan ketentuan-ketentuan syari’at, hendaklah menjauhi muamalah dan usaha-usaha yang buruk yang diharamkan. Rasulullah n melarang jual beli, yang dilakukan dengan cara yang buruk, mendatangkan madharat (bahaya) bagi orang lain, serta mengambil harta seseorang dengan cara yang bathil. Berikut beberapa transaksi perniagaan atau jual beli yang dilarang:

1. Jika akad jual beli itu menyulitkan ibadah, misalnya mengambil waktu shalat.
Seorang pedagang sibuk dengan jual beli sampai terlambat melakukan shalat jama’ah di masjid, baik tertinggal seluruh shalat atau masbuq.Berniaga yang sampai melalaikan seperti ini dilarang.
Allahberfirman:
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. [Al Jumu’ah :9-10].
Dalam ayat lain Allah berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [Al Munafiqun:9].
Perhatikanlah firman Allah Azza wa Jalla "maka mereka itulah orang-orang yang rugi". Allah menyatakan mereka mengalami kerugian, meskipun mereka kaya, berhasil mengumpulkan banyak harta dan memiliki banyak anak. Sesungguhnya harta dan anak-anak mereka tidak akan bisa menggantikan dzikir yang terlewatkan.
Seorang pedagang akan meraih keuntungan yang hakiki, jika mampu meraih dua kebaikan, yaitu memadukan antara mencari rezeki dengan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla. Melangsungkan akad jual beli pada waktunya, dan menghadiri shalat pada waktunya. Allah berfirman :
Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepadaNya. [Al Ankabut:17]
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah.

Jadi, perniagaan itu ada dua, yaitu perniagaan dunia dan akhirat.Perniagaan dunia menggunakan harta dan usaha.Sedangkan perniagaan akhirat menggunakan amal shalih. Allah berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. [Ash Shaf :10-13].
Inilah perniagaan yang menguntungkan, jika ditambah lagi dengan pernigaan dunia yang diperbolehkan, maka itu berarti kebaikan di atas kebaikan.Jika seseorang hanya melakukan perdagangan di dunia dan mengabaikan perdagangan di akhirat, inilah orang yang rugi.Sebagaimana firman Allah, yang artinya mereka itulah orang-orang yang merugi.
Seandainya seseorang melakukan ibadah, shalat, dzikir dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya, niscaya Allah membukakan pintu rezeki baginya.Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa. [Thaha :132].
Shalat yang dianggap oleh sebagian orang sebagai penghalang mencari rezeki, ternyata sebaliknya, ia bisa membuka pintu rezeki, kemudahan dan barakah. Jika engkau berdzikir dan beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberikan kemudahan dan membukakan pintu rezeki buatmu, dan Allah adalah sebaik-baik Pemberi rezeki. [Al Jumu’ah :11].

Allah Azza wa Jalla menjelaskan sifat-sifat hambaNya yang beriman:
Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut namaNya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat.Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. [An Nur : 36-37].
Ketika menafsirkan ayat ini, sebagian ulama salaf mengatakan, orang-orang mukmin itu melakukan akad jual beli. Jika salah seorang di antara mereka mendengar adzan, sedangkan timbangan masih ada di tangannya, maka dia akan menurunkan timbangan itu dan pergi mengerjakan shalat.
Kesimpulannya, jika jual beli menghalangi seseorang dari shalat, maka hal itu termasuk jual beli yang dilarang, bathil dan hasilnya haram.
2. Di antara jual beli yang dilarang dalam Islam, yaitu menjual barang yang diharamkan.
Jika Allah sudah mengharamkan sesuatu, maka Dia juga mengharamkan hasil penjualannya.Seperti menjual sesuatu yang terlarang dalam agama.Rasulullah n telah melarang menjual bangkai, khamr, babi, patung. Barangsiapa yang menjual bangkai, maksudnya daging hewan yang tidak disembelih dengan cara yang syar’i, ini berarti ia telah menjual bangkai dan memakan hasil yang haram.
Begitu juga hukum menjual khamr. Khamer, maksudnya segala yang bisa memabukkan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :


Semua yang memabukkan itu adalah khamr, dan semua khamr itu haram.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat sepuluh orang yang berkaitan dengan khamr.

Sesungguhnya Allah melaknat khamr, pemerasnya, yang minta diperaskan, penjualnya, pembelinya, peminum, pemakan hasil penjualannya, pembawanya, orang yang minta dibawakan serta penuangnya.[HR Tirmidzi dan Ibnu Majah].
Termasuk dalam masalah ini, bahkan lebih berat lagi hukumnya, yaitu menjual narkoba, ganja, opium dan jenis obat-obat psikotropika lainnya yang merebak pada saat ini.Orang yang menjualnya dan orang yang menawarkannya adalah mujrim (pelaku keriminal).Karena narkoba merupakan senjata pemusnah bagi manusia. Jadi orang yag menjual narkoba, melariskannya serta para pendukungnya terkena laknat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hasil penjualannya merupakan harta haram.
4. Di antara jual beli yang dilarang ialah, menjual gambar.
Nabi n melarang berjualan ashnam, maksudnya ialah gambar.Pada dasarnya ashnam itu adalah gambar patung, baik patung khayalan, burung, binatang ternak atau manusia.
Semua gambar makhluk yang bernyawa itu, haram untuk dijual dan hasil penjualannya juga haram.Rasulullah n melaknat para pelukis dan memberitahukan, mereka adalah manusia yang paling berat siksanya pada hari Kiamat nanti.Begitu juga, tidak boleh menjual majalah-majalah yang bergambar, terutama yang memuat gambar-gambar cabul. Gambar, disamping diharamkan, ia juga menebar fitnah. Karena tabiat seorang manusia, jika melihat gambar atau photo gadis cantik yang menampakkan sebagian kecantikan atau sebagian anggota tubuhnya, biasanya akan membangkitkan syahwatnya, yang kadang mendorongnya untuk melakukan perbuatan keji dan tindakan kriminal.
Begitulah yang diinginkan setan yang berwujud jin dan manusia dengan menebarkan dan memperjual-belikan gambar ini. Apa lagi menjual film porno atau video yang berisi gambar-gambar wanita telanjang serta berperilaku bejat dan keji.
Gambar-gambar inilah yang telah menfitnah (menipu) banyak wanita dan para pemuda serta membuat mereka menyukai perbuatan keji. Film-film seperti ini tidak boleh dijual, bahkan wajib atas seorang muslim untuk mencegah, memusnahkan dan menyingkirkannya dari tengah-tengah kaum muslimin. Orang yang membuka tempat untuk menjual film porno (cabul), berarti telah membuka tempat untuk bermaksiat dan mengusahakan harta haram, dan mengundang murka Allah. Bahkan ia berarti telah membuka tempat fitnah dan tempat mangkal bagi setan.
6. Termasuk jual beli yang dilarang ialah, menjual barang yang dimanfaatkan oleh pembeli untuk sesuatu yang haram.
Jika seorang penjual mengetahui dengan pasti, bahwa si pembeli akan menggunakan barang yang dibelinya untuk sesuatu yang diharamkan, maka akad jual beli ini hukumnya haram dan bathil. Jual beli seperti ini termasuk tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Allah Azza wa Jalla berfirman :
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. [Al Maidah :2].

Misalnya seseorang yang membeli anggur atau kurma untuk membuat khamr, membeli senjata untuk membunuh seorang muslim, menjual senjata kepada perampok, para pemberontak atau kepada pelaku kerusakan. Begitu juga hukum menjual barang kepada seseorang yang diketahui akan menggunakannya untuk mendukung sesuatu yang diharamkan Allah, atau mengunakan barang itu untuk sesuatu yang haram, maka seorang pembeli seperti ini tidak boleh dilayani.
7. Termasuk jual beli yang dilarang, yaitu menjual barang yang tidak ia miliki.
Misalnya, seorang pembeli datang kepada seorang pedagang mencari barang tertentu.Sedangkan barang yang dicari tersebut tidak ada pada pedagang itu.Kemudian antara pedagang dan pembeli saling sepakat untuk melakukan akad dan menentukan harga dengan dibayar sekarang ataupun nanti, sementara itu barang belum menjadi hak milik pedagang atau si penjual.Pedagang tadi kemudian pergi membeli barang dimaksud dan menyerahkan kepada si pembeli.
Jual beli seperti ini hukumnya haram, karena si pedagang menjual sesuatu yang barangnya tidak ada padanya, dan menjual sesuatu yang belum menjadi miliknya, jika barang yang diinginkan itu sudah ditentukan.Dan termasuk menjual hutang dengan hutang, jika barang yang diinginkan tidak jelas harganya dibayar di belakang.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang cara berjual beli seperti ini. Dalam suatu riwayat, ada seorang sahabat bernama Hakim bin Hazam Radhiyallahu 'anhu berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm : “Wahai, Rasulullah. Seseorang datang kepadaku.Dia ingin membeli sesuatu dariku, sementara barang yang dicari tidak ada padaku.Kemudian aku pergi ke pasar dan membelikan barang itu”. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ
Jangan menjual sesuatu yang tidak ada padamu. [HR Tirmidzi]
Demikian ini menunjukkan adanya larangan yang tegas, bahwa seseorang tidak boleh menjual sesuatu kecuali telah dimiliki sebelum akad, baik dijual cash ataupun tempo. Masalah ini tidak boleh diremehkan. Pedagang yang hendak menjual sesuatu kepada seseorang, hendaknya dia menjamin keberadaan barangnya di tempatnya atau di tokonya, gudangnya, show roomnya atau di toko bukunya. Kemudian jika ada orang yang mau membelinya, dia bisa menjualnya cash atau tempo.
8. Termasuk jual beli yang dilarang ialah, jual beli secara‘inah.
Apakah maksud jual beli dengan inah itu? Yaitu engkau menjual suatu barang kepada seseorang dengan pembayaran tempo (bayar di belakang), kemudian engkau membeli barang itu lagi (dari pembeli tadi) dengan harga yang lebih murah, tetapi dengan pembayaran kontan yang engkau serahkan kepada pembeli. Ketika sudah sampai tempo pembayaran, engkau minta dia membayar penuh (sesuai dengan harga yang kita berikan saat dia membeli barang pada kita.
Ini disebut jual beli ‘inah (benda), karena benda yang dijual kembali lagi kepada si pedagang semula.Ini adalah haram.Karena hanya bersifat untuk menyiasati riba. Seakan engkau menjual dirham sekarang dengan beberapa dirham di masa yang akan datang, lalu engkau jadikan barang tadi sebagai alat untuk menyiasati riba.
Jika engkau memberikan hutang kepada seseorang dengan menyerahkan barang dagangan dengan pembayaran tempo, seharusnya engkau membiarkan orang tadi menjual barang tersebut kepada orang selain engkau, atau membiarkan dia berbuat apa saja atas barang tersebut, disimpan atau dijual kepada orang lain jika dia memang membutuhkan uang.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
Jika kalian melakukan jual beli dengan cara ‘inah, dan kalian telah memegang ekor sapi, dan kalin rela dengan bercocok tanam, Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Allah k tidak akan mengangkatnya sampai kalian kembali kepada agama kalian. [HR Abu Dawud dan memiliki beberapa penguat].
9. Di antara jual beli yang terlarang, yaitu najasy (menawar harga tinggi untuk menipu pengunjung lainnya). Misalnya, dalam suatu transaksi atau pelelangan, ada penawaran atas suatu barang dengan harga tertentu, kemudian ada seseorang yang menaikkan harga tawarnya, padahal ia tidak berniat untuk membelinya. Dia hanya ingin menaikkan harganya untuk memancing pengunjung lainnya dan untuk menipu para pembeli, baik orang ini bekerjasama dengan penjual ataupun tidak.Orang yang menaikkan harga, padahal tidak berminat untuk membelinya telah melanggar larangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabdanya :
لاَ تَنَاجَشُوْا
Janganlah kalian melakukan jual beli najasy
Orang yang tidak berminat membeli dan tidak tertarik pada suatu barang, hendaknya tidak ikut campur dan tidak menaikkan harga.Biarkan para pengunjung (pembeli) yang berminat untuk saling tawar-menawar sesuai harga yang diinginkan.Mungkin ada sebagian orang yang kasihan kepada si penjual, kemudian ia bermaksud membantu agar si penjual kian bertambah keuntungannya, sehingga ia menambahkan harga. Menurutnya, yang ia lakukan akan menguntungkan penjual. Atau ada kesepakatan antara si penjual dengan beberapa kawannya untuk menaikkan harga barang.Harapannya, agar pembeli yang datang menawar dengan harga yang lebih tinggi. Ini juga termasuk najasy dan juga haram, mengandung unsur penipuan dan mengambil harta dengan cara bathil.
Termasuk jual beli najasy –sebagaimana disebutkan oleh ulama ahli fikih- yaitu perkataan seorang penjual “aku telah membeli barang ini dengan harga sekian”, padahal dia berbohong.Tujuannya untuk menipu para pembeli agar membelinya dengan harga tinggi.Atau perkataan penjual “aku berikan barang ini dengan harga sekian”, atau perkataan “barang ini dihargai sekian”, padahal dia berbohong.Dia hendak menipu para pengunjung agar menawar dengan harga lebih tinggi dari harga palsu yang dilontarkannya.Ini juga termasuk najasy yang dilarang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Termasuk perbuatan khianat, menipu dan perbuatan bohong yang akan dihisab di hadapan Allah Azza wa Jalla.  Para pedagang wajib menjelaskan harga sebenarnya jika ditanya oleh pembeli “anda membelinya dengan harga berapa?”Beritahukan harga yang sebenarnya.Jangan dijawab “barang ini dijual kepada saya dengan harga sekian”, padahal dia berbohong.Termasuk dalam masalah ini, yaitu jika seorang pedagang di pasar atau pemilik toko sepakat tidak akan menaikkan harga tawar, jika ada penjual yang datang menawarkan barang, agar penjual terpaksa menjualnya dengan harga murah. Dalam hal ini, mereka melakukan kerjasama. Ini juga termasuk najasy dan mengambil harta manusia dengan cara haram.
10. Diantara jual beli yang dilarang ialah, seorang muslim melakukan akad jual beli di atas akad saudaranya.

Selama penjual memberikan hak pilih kepada calon pembeli, maka biarkanlah calon pembeli berpikir, jangan ikut campur. Jika calon pembeli mau, ia bisa melanjutkan akad jual beli atau membatalkan akad. Jika akadnya sudah rusak dengan sendirinya, maka engkau boleh menawarkan barang kepadanya.
Begitu juga membeli di atas pembelian saudaranya, hukumnya haram.Misalnya, jika ada seseorang mendatangi pedagang hendak membeli suatu barang dengan harga tertentu, lalu dia memberikan hak pilih kepada pedagang (jadi dijual atau tidak) selama beberapa waktu. Maka selama masa memilih ini, tidak boleh ada orang lain ikut campur, pergi ke pedagang seraya mengatakan “saya akan membeli barang ini darimu dengan harga yang lebih tinggi dari tawaran si fulan”. Demikian ini merupakan perbuatan haram.Karena dalam perbuatan ini tersimpan banyak madharat bagi kaum muslimin, pelanggaran hak-hak kaum muslimin, menyakitkan hati mereka. Karena jika orang ini mengetahui bahwa engkau ikut campur dan merusak akad antara dia dengan pembeli atau penjual, dia akan merasa marah, dongkol dan benci. Bahkan mungkin dia mendoakan keburukkan bagimu, karena engkau telah menzhaliminya.
11. Di antara jual beli yang dilarang ialah, menjual dengan cara menipu.
Engkau menipu saudaramu dengan cara menjual barang yang engkau ketahui cacat tanpa menjelaskan cacat kepadanya. Jual beli seperti ini tidak boleh, karena mengandung unsur penipuan dan pemalsuan.Para penjual seharusnya memberitahukan kepada pembeli, jika barang yang hendak dijual tersebut dalam keadaan cacat. Kalau tidak menjelaskan, berarti ia terkena ancaman Rasulullah  dalam sabdanya :


Penjual dan pembeli memiliki hak pilih selama belum berpisah. Jika keduanya jujur, niscaya keduanya akan diberikan barakah pada jual beli mereka.Jika keduanya berbohong dan menyembunyikan (cacat barang), niscaya barakah jual beli mereka dihapus.
Suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melewati seorang pedagang di pasar.Di samping pedagang tersebut terdapat seonggok makanan. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memasukkan tangannya yang mulia ke dalam makanan itu, dan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam merasakan ada sesuatu yang basah di bagian bawah makanan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada pedagang: “Apa ini, wahai pedagang?” Orang itu menjawab: “Makanan itu terkena air hujan, wahai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam !” kemudian Rasulullah bersabda: “Mengapa engkau tidak menaruhnya di atas, agar bisa diketahui oleh pembeli? Barangsiapa yang menipu kami, maka dia tidak termasuk golongan kami”.









BAB III
PENUTUP
      A.    KESIMPULAN
Jual beli dalam islam dibatasi oleh beberapa hal, diantaranya larangan jual  beli barang haram. Selain itu adapula ditentukan waktu-waktu dimana umat muslim dilarang melakukan jual beli. Hukum islam sangat memperhatikan mudharat dan mashlahatnya bagi penjual maupun pembeli dalam melakukan tindakan jual beli sehingga dalam jaul beli ada hal-hal yang perlu dibatasi.
     


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar